BALIKPAPAN-Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santoso Purwakartiko tengah jadi sorotan. Postingannya di facebook pada 27 April 2022 kemarin menuai kecaman dari banyak pihak.

Sebabnya, dalam postingan tersebut, Budi dituding menyelipkan unsur SARA. Dalam sebuah kalimat, Budi menyinggung perihal kalimat yang sering digunakan dalam ajaran Islam, seperti, InsyaAllah, Barakallah dan Qadaraallah. Budi juga menulis tidak ada satupun mahasiswi yang dia wawancarai mengenakan  penutup kepala ala manusia gurun. 

Terkait postingan tersebut, Budi akhinya mencoba mengklarifikasi. Dia menjelaskan, postingan tersebut dia buat setelah mewawancarai calon peserta student mobility.

Ia mengaku cukup terkejut saat proses wawancara. Sebab, dari 14 peserta yang dia wawancarai, didominasi kaum hawa dengan jumlah 14 mahasiswi.

“Nah biasanya kan anak-anak kita yang memasuki usia mahasiswa itu kan mulai pakai kerudung ya. Lah ini kebetulan kok enggak ada yang berkerudung semua. kok ya seperti mahasiswa zaman dulu ya. Saya cukup surprise loh, ini liat anak-anak cukup mengejutkan. Makanya saya nulis itu,” kata dia.

Budi meneruskan, semangat dalam tulisan tersebut adalah karena seluruh peserta punya kemampuan akademik mumpuni alias pintar, dengan indeks prestasi (IP) mencapai 3,8 dan 3,9. Begitu juga dengan Bahasa inggris peserta yang dia nilai sangat lancar. Budi menyebutnya cas cis cus, sebagai gambaran lancarnya bahasa inggris para peserta ini.

Apa yang ditunjukkan mahasiswi-mahasiswi ini, sebut Budi, pasti membuat orang tua kagum. Apalagi, semuanya open minded

Soal penggunaan kalimat tidak ada yang menggunakan kerudung ala manusia gurun yang kemudian jadi masalah. Budi mencoba meluruskan. Ia menyebut pemilihan kalimat itu sejatinya untuk menggambarkan kondisi orang timur tengah yang banyak, pasir, angin, panas sehingga harus menggunakan penutup kepala.

“Ya gaya anak-anak muda seperti dulu. Di situ saya tidak ada kata-kata bahwa yang menggunakan kerudung saya akan nilai jelek, tidak ada. Saya ngomong seperti itu, sama sekali tidak ada. Saya hanya menceritakan bahwa kebetulan dari 12 itu tidak ada yang pakai kerudung,” kata dia. 

Di sisi lain, Budi juga sadar bahwa postingannya menuai prokontra. Dia menilai, itu merupakan konsekuensi bahasa tulis. Dia juga paham, persepsi orang bakal berbeda-beda.

“Saya hanya menyayangkan ada yang memberi pengantar seakan-akan saya tidak adil dan diskriminatif. Ini saya sangat menyayangkan,” lanjut dia.

Dia juga memastikan tak punya tendensi tertentu dalam membuat tulisan tersebut. Budi menegaskan, tulisan tersebut sama sekali tak bertujuan merendahkan mahasiswi yang tak berkerudung.

“Satu lagi. Ini adalah opini pribadi saya, tidak ada sangkut pautnya dengan ITK,” jelas dia.

Ya, Budi menilai pihak ITK tak perlu terseret dalam persoalan ini. Bahkan, jika ada pihak yang ingin mengklarifikasi, Budi mempersilakan menghubungi dirinya secara pribadi.

“Bukan kampus. Saya enggak ingin membawa kampus ITK ke dalam masalah ini. Karena ini masalah saya,”ujar dia. (hul)