BALIKPAPAN-Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu (BKIPM) Balikpapan, Eko Sulistyanto mengatakan, dengan direct call, sejumlah manfaat bisa diperoleh eksportir.

“Mulai dari biaya operasional dan logistik yang lebih rendah, kepastian slot kargo, administrasi yang lebih mudah dan waktu yang relatif lebih singkat,” kata dia.

Ia menambahkan, pelaksanaan ekspor ini merupakan terobosan, karena dilakukan oleh unit pembudidaya ikan yang merupakan usaha mikro kecil menengah (UMKM), yakni CV 3A, yang sudah memiliki seertifikat cara karantina ikan yang baik (CKIB) dan nomor registrasi negara Tiongkok.

Sepanjang 2021, BKIPM Balikpapan mencatat, pertumbuhan ekspor komoditas perikanan yang keluar wilayah Kaltim mencapai Rp 1 triliun. Di mana sejumlah negara jadi tujuan utama ekspor, seperti Jepang, Tiongkok, Vietnam, Inggris, Singapura, Hong Kong, Malaysia, Vietnam hingga Korea Selatan.

Direktur CV 3A, Maryono, mengatakan, ekspor kepiting ke Tiongkok, sudah mulai dilakukan sejak Maret tahun lalu, dengan tujuan Shanghai. Namun, karena lockdown, eskpor kemudian dialihkan ke Guangzhou. Saat Guangzhou juga terkena lockdown, maka ekspor kembali dialihkan menuju Shenzen.

“Ini merupakan ekspor ke yang ke empat,” kata Maryono, di sela pelepasan ekspor kepiting di terminal kargo, Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan, Ahad (22/5).

Sebanyak 5 ton kepiting, senilai kurang lebih Rp 1 miliar tersebut, kata Maryono, diperoleh dari nelayan lokal di Kota Bontang, Kutim hingga Handil, Kutai Kartanegara. 

Untuk menjadi eksportir, diakui Maryono memang bukan soal mudah lantaran harus melewati aturan yang ketat. Mulai dari ukuran kepiting, kesehatan kepiting, hingga kualitas pengemasan.

“Jadi memang ini butuh kerjasama banyak pihak, mulai dari balai karantina hingga bea cukai,” kata dia.

Selain Tiongkok, negara lain yang dinilai cukup potensial adalah Prancis. Maryono menyebut, dalam sebulan kebutuhan kepiting di Prancis mencapai 2-3 kontainer.  Sayang potensi besar ini belum mampu dia garap.

“Negara Eropa mewajibkan eksportir punya grade A, jadi belum bisa kami layani. Selain itu butuh biaya yang cukup tinggi,” kata dia. (hul)