TANA PASER - Kecamatan Long Kali menggelar orientasi kepada kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dari tiap desa, sebagai upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayah tersebut. Di mana Kabupaten Paser dan termasuk Long Kali, masih banyak stunting terjadi. 

Kegiatan yang bekerjasama dengan Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Paser dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) itu menghadirkan 55 peserta Kader TPK dari 23 desa di Long Kali. 

Tim Penyuluh KB dari BKKBN Rini Nur Hidayah mengatakan permasalahan stunting di Long Kali ada beberapa faktor, diantaranya karena perempuan terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak melahirkan atau 4T. Masih minimnya kesadaran tentang 4T ini dalam memiliki anak perlu disampaikan melalui kader TPK. 

"Menurunkan prevalensi angka kasus stunting di tiap wilayah ialah dengan cara melakukan pendampingan di lima kelompok sasaran," kata Rini, Rabu (8/6). 

Sasaran yang dimaksud ialah Calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca salin, keluarga yang memiliki bayi dibawah dua tahun, dan keluarga yg memiliki balita serta keluarga berisiko stunting yaitu sanitasi tidak layak (air minum dan jamban) dan wanita usia subur yang masuk kategori 4T.

Pembentukan kader TPK dan bisa membantu program presiden untuk pencegahan stunting. Program BKKBN ialah meningkatkan kualitas dan ketahanan keluarga, namun untuk level kecamatan harus dibantu dengan kader TPK. 

Camat Long Kali Pujiono sangat mendukung program ini, pasalnya tugas kecamatan sebagai perpanjangan tangan bupati di wilayah harus bisa optimal. Jika hanya mengandalkan sumber daya manusia dari kecamatan dan kelurahan, belum sanggup. Sehingga perlu adanya kerjasama dengan instansi daerah hingga vertikal. 

"Kita harapkan program ini benar-benar bisa mengurangi angka stunting di Long Kali dan program KB berjalan sesuai harapan," kata Camat. (Adv/jib)