BALIKPAPAN  – Kasus sengketa hibah Walet di Kutai Barat yang sempat viral, masih berlanjut.

Kasusnya kini ditangani PN Sendawar, Kutai Barat yang kini masuk tahap periksaan saksi pelapor dan terdakwa. Kasus ini mulai disidangkan pada 23 Mei 2022 dengan mendengarkan saksi-saksi.

Pada 17 Juni 2022 lalu, PN Sendawar mendengarkan keterangan saksi Derahim selaku pelapor yang juga anak angkat Almarhum Garim.

Dalam persidangan, Derahim menyebutkan bahwa dia sebagai anak kandung dari Garim dan Rajin (pemilik harta  sarang walet). Derahim mengaku sebagai pewaris golongan 1.

“Dia tidak mengaku ibu kandungnya yang masih hidup berserta saudara-saudaranya. Selain itu yang bersangkutan (derahim) tidak mengetahui adanya pemalsuan surat hibah pelapor hanya menduga saja,” kata Ali Irham pengacara terdakwa mengutip jalanya persidangan dari saksi Derahim yang juga pelapor.

Derahim juga menuduh petinggi kampung Gunung Bayan bertanda tangan surat hibah tanggal 28 Juli 2019.

Sementara saksi lainya, Novita Sari (istri kedua almarhum Garin) pemberi hibah membenarkan bahwa mengetahui adanya surat hibah yang diberikan kepada ketiga orang saudaranya bernama Eliazer Cang, Kuang Ling dan Pelemiah.

Saksi Novita juga mengakui bahwa dirinya yang mengkonsep hibah tersebut. Novita juga menegaskan tidak benar jika Kepala Desa Gunung Bayan yang membuat surat hibah tersebut.

Persidangan juga mendengarkan keterangan terdakwa dalam perkara 263 KUHP atas nama Eliazer Cang, Kung Ling dan Pelemiah dilaporkan membuat surat hibah palsu. 

Dari keterangan mereka (Eliazer, Kung dan Pelemiah) bahwa tidak benar mereka yang membuat hibah tersebut. “Bahwa para terdakwa di panggil Garim ke rumah tempat kediaman Garim dan memberikan hibah tersebut. “Bahwa istrik kedua yang bernama Novita Sari yang konsep hibah disuruh almarhum Garim yang diberikan kepada ketiga saudaranya yang bernama Eliazer Cang, Pelemiah dan Kung Ling,” ujar Ali Irham mengutip penjelasan terdakwa dalam persidangan.

Keterangan terdakwa lainya bernama Pilus kepala Desa Gunung Bayan Kubar bahwa tidak benar bertanda  tangan di dalam surat hibah tersebut sebelum menjabat sebagai kepala kampung.

“Bahwa bertanda tangan dalam surat hibah tersebut pada tanggal 23 November 2019 bukan tangagl 28 Juli 2019,” ungkap Pilus seperti dikutip Ali Irham.

Selain Pilus juga tidak pernah terlibat dalam pembuatan hibah tersebut. 

Rencana PN Sendawar akan menggelar kembali persidangan pada 29 Juni 2022 mendengarkan  saksi fakta dari pihak jaksa penuntut umum.

Diketahui kasus ini sempat viral di Kubar bahkan di media 2021 lalu.  Kasusnya terjadi pada 2019 lalu. Dalam kasus ini Derahim sebagai pelapor dalam perkara pemalsuan hibah. Derahim melaporkan Eliazer Kung,  Kulaing Ling  dan pelemiah. Mereka bertiga saudara Garim pemberi hibah. Sedangkan satu orang dilaporkan adalah Pilus kepala Desa Gunug Bayan, Kubar.

Sementara Derahim mengaku anak kandung Garim dan Rajin.hal ini berdasarkan akta kelahiran. Atas klaim ini, pihak keluarga Garim yakni Kuan Ling    melaporkan balik kepada Derahim pasal 266 KUHP terkait pemalsuan dalam akta autentik yang digunakan untuk melaporkan. (pro)