SANGATTA - Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), polemik sampah masih umum terjadi. Sehingga kehadiran Bank Sampah di wilayah ini dianggap penting karena diharap bisa menjadi ujung tombak akan kebersihan lingkungan. 

Bank sampah juga digadang-gadang dapa menjadi peluang kontribusi masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Hal itu diungkapkan Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, saat menghadiri pelantikan dan pengukuhan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi) Kutim. 

Dia menyampaikan bahwa kehadiran Bank Sampah di Kutim memang sangat dinanti-nantikan. Selain mengubah sampah menjadi hal yang lebih berharga, bank sampah juga membawa perubahan terhadap lingkungan, sosial, hingga perekonomian.

Sebagai kepala daerah, dirinya menyebut bahwa indikator keberhasilan suatu pemerintahan adalah dari penanganan sampah. Oleh karenanya, penting bagi pemerintah untuk mendampingi pemerhati sampah dan melakukan pengelolaan sampah secara maksimal.

“Setiap periode pemerintah itu yang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pemerintah dalam membangun daerahnya adalah sampah,” tutur ia. 

Kendati dalam upaya pengelolaan, Kecamatan Sangatta Utara dan Selatan sebagai kawasan dengan penduduk terbanyak tentu membutuhkan berbagai opsi dalam menuntaskan sampah. Salah satunya dengan kehadiran mesin insinerator yang digadang mampu mengelola 50 ton sampah dari buangan sampah harian di Sangatta sebanyak 75 ton.

Ada pula program yang secara langsung menggandeng masyarakat di tingkat RT yakni Gerakan Bersih-Bersih RT atau sering disebut (Grebek RT). Pimpinan daerah secara rutin satu kali dalam sepekan memantau kegiatan bersih-bersih yang bersifat gotong-royong di tiap RT.

“Saya termasuk yang terus turun secara rutin untuk mengawasi secara langsung pengelolaan sampah atau kebersihan di tingkat RT. Bahkan kita tiap pekan kalau dulu ada namanya Jumat bersih, Nah sekarang ada yang namanya grebek RT,” ujarnya.

Pengelolaan sampah tidak hanya kewajiban dari pemerintah, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat karena bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari. Untuk itu, diharapkan kehadiran Bank Sampah di Kutai Timur bisa membantu menyelesaikan persoalan sampah dengan menggandeng masyarakat melalui konsep yang menarik.

“Betul kata Ketua Asobsi tadi, dari sampah menjadi emas. Satu kilogram sampah plastik bernilai Rp 1.600 sampai Rp 2.000. Jika dikumpulkan terus menerus bisa buat beli emas,” tutup ia. (Adv/*/la)