BALIKPAPAN-Tersangka kasus kekerasan seksual terhadap gadis di bawah umur di Balikpapan, AZ, diduga mengidap penyimpangan seksual. 

SF (42), mantan istri tersangka menyebut, sejak menikah pada 2006 lalu, gelagat penyimpangan ini sudah ditunjukkan Az. Selain pernah mencoba menggunakan alat bantu, AZ, kata SF juga punya ketertarikan terhadap anak-anak di bawah umur. “Saya tidak turuti keinginannya. Setelah itu dia tidak pernah mencoba lagi,” kata dia kepada media ini, Sabtu (16/7).

Kepada media ini, SF yang tinggal tak jauh dari rumah tersangka, mengaku bahwa dia adalah istri ketiga dari AZ. Sebelumnya, AZ sudah dua kali menikah. Istri pertama meninggal dunia, sementara pernikahan kedua tersangka kandas. Kandasnya pernikahan kedua ini, diduga juga karena AZ menikahi gadis di bawah umur.

Selain punya penyimpangan seksual, tersangka, disebut SF juga punya keanehan lain, seperti enggan memiliki anak darinya. “Bahkan dia pernah minta saya menggugurkan kandungan. Saya nyaris mati karena infeksi,” kenang SF.

Disinggung soal pernikahan siri antara tersangka dengan korban, SF mengaku sudah mengetahui. Bahkan, dia mengetahui pernikahan itu dari tersangka AZ langsung.

“Memang sempat kami datangi waktu dia (tersangka) bawa anak kecil (korban) ke dalam rumah. Saya waktu itu bersama pak RT juga. Di situ dia mengaku sudah menikahi korban,” katanya.

AZ lalu berusaha meyakinkan warga dengan menunjukkan berkas acara pernikahannya dua hari kemudian. Dalam berkas acara pernikahan tersebut, korban dan tersangka tertulis menikah pada 6 Mei 2022. Bapak angkat dan ibu kandung korban juga hadir ikut bertanda tangan dalam berkas itu.

Meski sudah nyaris dua bulan tinggal bersama tersangka, SF mengaku hanya sekali berinteraksi dengan korban.  Momen itu, bahkan sempat dia rekam menggunakan handphone-nya pada 25 Mei lalu. Korban, kata SF keluar rumah pada siang hari dan mendatangi tokonya. SF bahkan sempat memberi makanan ringan dan berbincang dengan korban. Di situ, dia juga yakin, bahwa korban masih berusia di bawah 15 tahun.

Ini berbanding terbalik dengan pengakuan tersangka, yang menyebut korban sudah berusia 16 tahun lebih. Selain itu, SF juga menduga korban merupakan anak berkebutuhan khusus. “Dari cara berbicara dan bersikap, saya menduga korban ini memang berkebutuhan khusus,” jelas dia.

Di sisi lain, SF juga menyebut selama tinggal berdua dengan tersangka, korban sangat jarang keluar rumah. Biasanya, korban akan diajak keluar rumah saat tersangka pergi bekerja di kawasan Jalan MT Haryono.

“Dia (tersangka) itu kerjanya jualan bensin di dekat RS Siloam. Nah biasanya kalau pergi jualan si korban diajak,” kata dia.

Sekitar 10 hari sebelum meninggal, SF sempat mendapati korban dibopong oleh tersangka ke dalam mobil pada sore hari dan kembali pada malam hari. “Sepertinya saat itu sudah sakit, tapi tetap dibawa ikut jualan,” ujarnya.

Sampai akhirnya pada Sabtu (2/7) malam, dia mendapat kabar korban sudah meninggal dunia. “Itu juga saya dapat kabar dari mantan suami saya (tersangka). Dia WA saya,” ujar dia.

Salah satu warga yang bekerja di tempat SF juga mengaku melihat korban dibopong dalam kondisi pucat Sabtu (2/7) sore tersebut. Warga tersebut curiga korban sudah tidak bernyawa. “Karena kondisinya beda, katanya sudah pucat dan tidak bergerak seperti kaku,” kata SF.

Tersangka akhirnya ditangkap polisi pada Ahad (3/7) malam setelah ibu korban melaporkan kejanggalan pada jenazah korban. “Saya sempat mikir, kalau tidak ditangkap, bisa-bisa tersangka ini membawa anak kecil lain. Sebab memang dia suka bawa anak kecil,” kata SF.

Sebelum menikah dengan korban, tersangka diakui SF kerap membawa anak kecil ke dalam rumah. Bahkan pada satu kesempatan, tersangka sempat membawa tiga anak kecil, usianya, kata SF sekitar 14 tahun, 12 tahun dan di bawah 10 tahun pada tengah malam.

Tersangka berdalih, keberadaan anak-anak tersebut untuk membantu bersih-bersih rumah.  Beberapa kali tersangka juga mengirim foto sedang bersama anak-anak kepada SF.

Namun SF tak tahu menahu dari mana tersangka mendapat anak-anak kecil tersebut. Dia mencurigai, anak-anak tersebut didapat tersangka dari jalanan.

Terungkapnya kasus ini, diakui SF cukup membuat lega. Apalagi AZ kini sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh polisi. Namun dia juga miris lantaran korban harus meninggal dunia akibat ulah AZ. (hul)