BALIKPAPAN-Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa meninjau pelaksanaan Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield di Yonif Raider 600/Modang, Balikpapan, Jum’at (5/8) sore.

Latihan Gabungan Bersama antara personel TNI AD dan US Army ini sudah dimulai sejak Rabu (3/8) dan akan berlanjut hingga sembilan hari ke depan. Selain saling berbagi kemampuan lewat materi kelas, mereka akan menjajal medan pertempuran di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Amburawang, Samboja, Kukar.

Sejumlah peralatan dipastikan bakal digunakan dalam latihan tempur di Puslatpur Amburawang nanti, seperti Black Hornet drone, yang merupakan drone pengintai berukuran mini dan MILES ( Multiple Integrated Laser Engagement System).

“Alat ini (MILES) punya sensor khusus yang terhubung dengan senjata, ini artificial intelligence dan membuat latihan pertempuran semakin realistis. Jadi meskipun dengan peluru hampa, ketika target tertembak maka otomatis sensornya akan berbunyi atau menyala. Ini sangat spesifik,” beber mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) ini sambil menunjukkan MILES yang terpasang di rompi seorang prajurit.

Di sisi lain, laki-laki yang pernah menjabat Pangkostrad ini mengaku, latihan ini bukan untuk mencari siapa yang lebih unggul, melainkan saling mempelajari hal yang baru satu sama lain. “Termasuk bagi prajurit kita sendiri,’ jelas dia.

Didampingi sang istri, Hetty Andika Perkasa, Jenderal Andika Perkasa mengaku gembira dengan perkembangan yang ditunjukkan prajurit Indonesia, meski latihan bersama baru berlangsung beberapa hari.

“Seperti yang tadi saya lihat, prajurit dari kedua negara sudah tampak menyatu,” ucap Jenderal Andika.

Ia yakin, sembilan hari waktu yang tersisa selama latihan bersama bakal dimaksimalkan prajurit dari kedua belah pihak untuk semakin dekat, sehingga terjalin networking yang baik satu sama lain dan memperkuat interoperabilitas satu sama lain dengan saling belajar. 

Dibandingan dengan edisi tahun lalu, Super Garuda Shield 2022 memang sedikit berbeda. Utamanya soal prajurit yang diutus. Jika tahun lalu wakil dari Indonesia adalah prajurit dari Yonif 600 Raider, tahun ini Batalyon 623 yang ada di Banjarmasin jadi wakil TNI AD.

“Termasuk dari US Army, kalau tahun lalu dari Batalyon 121 tapi sekarang Batalyon 235 itu di Brigade tiga divisi ke-25 yang base-nya di Hawaii," ungkap Panglima TNI. 

Dalam kunjungan tersebut, Jenderal Andika menyempatkan diri berinteraksi dengan prajurit dari dua negara, Indonesia dan Amerika Serikat. Salah satunya adalah Prada Ahmad. 

Meski dengan kemampuan bahasa inggris yang terbatas, Prada Ahmad tetap berusaha agar bisa berinteraksi dengan prajurit dari Negeri Paman Sam. Salah satunya saat dia mengaku menggunakan aplikasi Google Translate untuk berkomunikasi dengan salah satu prajurit.

“Saya mau minta bertukar bendera, jadi saya lihat di google translate,” kata dia saat ditanya Jenderal Andika tentang bagaimana caranya berkomunikasi dengan prajurit US Army. (hul)