BALIKPAPAN – Pengerjaan proyek DAS Ampal di beberapa titik lokasi sekaligus oleh kontraktor dinilai tidak efektif. Misalnya proyek depan Global Sport dan Perumahan Tamansari Wika.

Tenaga kerja dan alat yang kurang membuat mereka harus berpindah pengerjaan di dua lokasi tersebut. Wakil Ketua Komisi III DPRD Balikpapan Fadlianoor menuturkan, pengerjaan secara bersamaan ini tidak efektif.

Seharusnya kontraktor bisa fokus pengerjaan di satu titik terlebih dahulu. Bukan berarti malah membagi pekerjaan. “Padahal SDM atau tenaganya tidak ada. Alatnya pun satu di bawa kesana, lalu dibawa kesini lagi,” ujarnya.

Apalagi terlihat proyek perbaikan di Tamansari Wika dibiarkan begitu saja menunggu alat yang masih digunakan di lokasi lain. Sementara beton pracetak atau precast sudah berjejer memakan badan jalan perumahan.

“Ini barangnya juga sudah ada, kenapa tidak minta mobil crane untuk segera dikerjakan,” tuturnya. Kemudian jajaran precast yang belum terpasang di akhirnya mengganggu kondisi jalan atau lalu lintas kendaraan. 

“Proyek anggaran Rp 136 miliar, masa menyewa mobil crane saja tidak sanggup,” ucapnya. Politikus PDIP ini menilai, pelaksanaan pembangunan DAS Ampal jadi tak efektif dan efisien.

Dia berpendapat, kesannya kontraktor hanya mau memenuhi kewajiban saja agar terlihat seperti proyek sudah berjalan progress sekian persen. “Ternyata nihil semua jadinya,” imbuhnya. 

Dia menegaskan, proyek di Tamansari justru seperti terbengkalai. Kontraktor telah membongkar dan menggali badan jalan untuk menanam precast. Namun hingga kini belum dikerjakan dan dibiarkan begitu saja tanpa ada pengamanan.

Jika kondisi hujan, galian badan jalan menjadi kolam air. “Itu membahayakan. Bayangkan saja di sekitar sini ada anak kecil yang bermain ke luar teras. Kemudian depan rumah ada galian sedalam 4 meter lebih,” tuturnya.

Sementara itu, pihaknya berencana melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan instansi terkait pada pekan depan. Baik dengan Dinas Pekerjaan Umum, kontraktor, hingga konsultan akan bertemu dalam RDP.

Fadli juga telah menyampaikan kepada Dinas PU untuk menganggarkan pelebaran gorong-gorong menuju drainase sekunder Balikpapan Baru. Jika tidak dilakukan pelebaran, maka banjir hanya berpindah dari Global Sport ke Wika.

“Banjir bisa pindah kesini karena air tidak bisa keluar. Jadi anggarkan saja sekarang,” sebutnya. Apalagi fasum dan fasos Balikpapan Baru sudah diserahkan kepada Pemkot Balikpapan. Maka tidak ada alasan menolak pelebaran gorong-gorong. (din/adv/pro)