PROKAL.CO,

BALIKPAPAN -  Amukan si jago merah yang menelan perkampungan di kawasan Gunung Bugis, Baru Ulu, Balikpapan Barat pada, Sabtu (5/6) menyisakan banyak cerita di dalamnya. Salah satu yang sempat menarik perhatian adalah viralnya potongan video seorang pria yang memanjat atap rumah, menghadap kobaran api besar sembari melambaikan tangannya bak melakukan ritual.

Video itu mengundang penasaran banyak orang yang melihatnya, siapakah gerangan sosok tersebut. Setelah ditelesuri, PROKAL.co pun berhasil menemukan figur yang menjadi perbincangan khalayak belakangan ini.

Adalah Dahlan atau akrab disapa Teong, pria yang menggerakkan tubuhnya di atap rumah warga saat itu. Apa yang dilakukan Teong saat itu diyakini oleh masyarakat menjadi bantuan supranatural yang dapat menurunkan hujan turun dan membantu proses pemadaman.

Namun rupanya apa yang menjadi asumsi publik justru dibantah tegas olehnya. Dia bercerita bahwa awal mula dia melakukan tindakan tersebut hanya karena telah memasrahkan peristiwa ironi malam itu.

“Sebenarnya saya saat itu hanya membantu memadamkan api. Tapi rupanya ditengah-tengah kami kehabisan air. Alhamdulillah memang sempat datang pemadam, tapi akses jalan di situ sempit, kami juga bingung harus apa,” kata pria berusia 38 tahun itu.

Kebingungannya itu, tutur Teong, membuat timbul satu perasaan yang menyuruh tangannya bergerak seperti seorang dirigen yang memandu lagu. Mulutnya turut bergerak mengucapkan lantunan selawat berharap pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

“Saya bergerak, sambil mengucap Allahu Akbar, selawat dan doa-doa lainnya. Di akhir gerakan, tangan saya melambai ke depan, seakan pasrah kepada Allah. Kemudian saya turun dari tangga,” terangnya.

Namun siapa sangka, di akhir gerakannya yang penuh sorotan, tiba-tiba saja hujan turun. Terlebih sebelumnya kerumunan di sana memang sedang dihadapkan pada kecemasan, apakah api bisa dipadamkan dengan cepat, sementara akses menuju lokasi kebakaran sempit dan padat penduduk.

Tapi dibalik viralnya dia, pria yang bekerja sebagai tukang bangunan ini juga dirundung rasa takut. Khawatir jika ada yang menuduhnya melakukan perbuatan yang menduakan Tuhan, padahal kata dia itu hanyalah spontanitas.

“Iya (spontan). Takut saja ada yang menilai macam-macam padahal itu (turun hujan) sudah mukjizat dari Allah swt. Saya pun tidak ada yang namanya meminta hujan atau apapun, saya sudah pasrah dengan kode tangan saya yang terakhir,” jelasnya.

Tentang banyaknya julukan yang disematkan pada sosoknya karena tindakan kemarin, Teong justru tak mempermasalahkan. Tapi yang menjadi keresahan hatinya hanyalah tak ingin orang lain sampai salah tanggap.

“Kalau untuk lelucon panggilan Avatar atau apa, ya paling hanya seperti cerita-cerita saja tidak masalah. Takutnya itu membawa kemusyrikan saja. Nanti ada yang meminta saya untuk membantu untuk dibacakan doa dan diberi uang, sedangkan saya tidak bisa yang ada justru bikin malu saja nantinya. Itu saja yang ditakutkan,” katanya. (rin/pro)