MARANGKAYU– Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) bagian dari Subholding Upstream Regional Kalimantan, mengadakan pelatihan penanganan tumpahan minyak bagi warga Kecamatan Marangkayu, Kamis (9/9). 

Kegiatan diadakan di Balai Pertemuan Umum Kecamatan Marangkayu dengan peserta 50 orang yang berasal dari Desa Sebuntal, Desa Semangko, dan Desa Kersik, terdiri dari nelayan, petani tambak, karang taruna, kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 

Turut hadir dalam kegiatan ini Camat Marangkayu, Kepala Desa Kersik, Semangko, dan Sebuntal.

“Swadaya Masyarakat Tangani Minyak Tumpah” (Swastamita) merupakan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) bidang kebencanaan yang dibuat oleh PHKT Lapangan DOBU. Nama Swastamita diambil dari bahasa sanksekerta yang berarti pemandangan indah saat matahari terbenam,” kata Superintendent Santan Terminal, Binto Iskandar.

Dijelaskan, program Swastamita ini bertujuan menjaga perairan laut Marangkayu, agar masyarakat pesisir memiliki acuan apabila menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan tumpahan minyak.

Dalam pelatihan ini disampaikan materi dasar mengenai pengertian tumpahan minyak, penyebab tumpahan minyak, kategorisasi jenis minyak, dan peralatan mau pun cara yang digunakan ketika ada tumpahan minyak. 

Materi diberikan langsung oleh dua anggota tim Oil Spill Santan Terminal yakni Dwi Pamiluto Nugroho dan Andi Subhan. 

Pengetahuan dasar mengenai penanggulangan tumpahan minyak wajib dimiliki oleh masyarakat untuk mengurangi risiko dampak pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan berbagai kerugian ekonomi dan sosial.

Iskandar berharap, usai pelatihan ini ke depannya dapat dibentuk kelompok-kelompok tim penanggulangan tumpahan minyak yang siaga untuk melakukan patroli ketika terjadi tumpahan minyak di laut.

Camat Marangkayu Rekson Simanjuntak sangat mendukung pelatihan ini. 

“Ini adalah upaya kita bersama menjaga perairan laut Marangkayu, agar lingkungan semakin terjaga sehingga nelayan tidak terganggu ketika mencari ikan,” ujarnya.

PHKT melaksanakan program pelatihan ini sebagai wujud komitmen memelihara lingkungan melalui peningkatan kapasitas masyarakat sehingga mereka mampu mengidentifikasi dan menanggulangi, serta membuat kajian analisis dampak sosial, ekonomi dan lingkungan bila terjadi kasus tumpahan minyak. Sehingga pelatihan ini pun melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti nelayan dan pemuda. (aji/pro)