BALIKPAPAN- Cabang olahraga atletik memang kalah pamor dibandingkan sepak bola maupun bulu tangkis di Kaltim. Namun, justru atletik sukses mempersembahkan tiga medali bagi Kaltim pada gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021 kemarin.

Dua dari tiga medali tersebut dipersembahkan Irma Handayani dari nomor lari 10.000 meter dan marathon. Di nomor lari 10.000 meter, Irma sukses merebut perak, sedangkan di lari marathon, atlet 30 tahun ini harus puas dengan perunggu. Sementara satu medali perak disumbangkan Gayus Sibuang yang tampil di nomor dasa lomba.

Irma mengaku capaiannya di PON Papua 2021 kemarin jadi yang terbaik sejak tampil pada multi ajang terbesar di Tanah Air ini pada 2008 silam. “PON sebelumnya saya tak pernah membawa pulang medali. Jadi PON kali ini memang jadi pencapaian terbaik saya,” kata Irma.

Kendati hanya meraih perak dan perunggu, Irma mengaku sudah cukup puas. Mengingat, persaingan di dua nomor ini memang cukup ketat. Ia mesti bersaing dengan dua atlet nasional asal Jakarta, Odekta Elvina Naibaho yang dan Triyaningsih. Apalagi, ia mengaku awalnya hanya menargetkan satu medali saja.

Selain harus bersaing dengan atlet nasional, Irma juga menyebut persiapan menuju PON kali ini diakui kurang maksimal. Pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun lalu, membikin persiapannya agak terganggu.

“Pasti berpengaruh, karena selama pandemi kan ruang gerak kita terbatas. Kasus yang naik turun juga membuat kita tidak bisa maksimal berlatih karena takut,” beber istri dari Abdul Rachman ini.

Meski saat ini sudah menginjak usia 30 tahun, Irma masih berambisi kembali tampil di PON Aceh dan Sumut 2024 mendatang. “Jika masih diberi kekuatan dan kesehatan, saya masih ingin tampil di PON Aceh dan Sumut. Itu akan jadi PON terakhir saya,” ungkap ibu dari M Almendo Ibrahim ini.

Selain PON, Irma juga masih memendam asa untuk bisa tampil pada ajang SEA Games 2022 di Vietnam.

JADI ATLET SEJAK KELAS 5 SD

Meski kini jadi salah satu atlet marathon yang diperhitungkan, rupanya Irma tak pernah berpikir untuk menjadi atlet. Dia mengaku, awal mula terjun ke dunia atletik saat menginjak kelas 5 SD.

“Jadi waktu itu saya hanya ikut teman mendaftar untuk lomba lari tingkat SD di Samarinda. Ternyata saya malah dapat juara 2, setelah itu saya mulai serius untuk menjadi atlet lari,” kenang Irma.

Soal ketertarikan ke olahraga atletik, khususnya lari, Irma menjawab sederhana, murah. Olahraga lari, kata dia hanya membutuhkan sepasang sepatu, sehingga tak banyak ongkos yang harus dikeluarkan.

“Olahraga lain kan perlu alat yang lebih banyak. Kalau lari kan hanya butuh sepatu, saya juga tidak mau merepotkan orang tua,” imbuh dia.

Sebelum dikenal sebagai pelari jarak jauh, Irma mengaku lebih sering tampil di lari jarak menengah, 800 meter – 1500 meter. Namun, karena peluang di jarak jauh, akhirnya dia memilih fokus ke lari jarak jauh.

Disinggung soal perkembangan olahraga khususnya atletik di Kaltim, Irma tak sungkan menyebut perkembangannya masih lambat. Selain minim atlet, sarana latihan bagi atlet juga masih terbatas.

“Contohnya saja saja stadion yang kami gunakan untuk latihan, kadang tidak dibuka untuk atlet. Bagaimana regenerasi mau berjalan kalau fasilitas masih terbatas,” kata Irma yang berniat jadi pelatih saat pensiun nanti. (hul)