BALIKPAPAN—Dunia informasi telah berubah. Digitalisasi semakin berkembang. Serangan media-media online harus membuat media konvensional harus mengikuti zaman. Harus cepat adaptasi dan berkreasi jika ingin pondasi bisnis terus eksis. 

Situasi tersebut menjadi pembahasan dalam forum diskusi yang digelar oleh SKK Migas Kalsul, Selasa (16/11). Mengusung tema Strategi Media Menghadapi Pandemi dan Pengaruh Digitalisasi Media 4.0”, sejumlah isu menjadi konsen pembahasan.

Dalam kegiatan ini, pemateri menyampaikan informasi terkini di sektor minyak dan gas bumi. Ada pula sesi pemaparan terkait dampak psikologis yang kaitannya dengan pandemi yang kini masih berlangsung.

Manajer Senior Humas SKK Migas Kalsul Wisnu Wardhana menyampaikan, peran media massa masih sangat penting bagi industri hulu migas. Namun, dia mengajak para insan media agar tak denial terhadap fase shifting.

“Shifting di dunia media tidak bisa dihindari. Situasi pandemi Covid-19 mempercepat proses tersebut,” ungkapnya saat membuka diskusi, mewakili Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul Azhari Idris. 

Wisnu menyebut, informasi yang cepat semakin menjadi kebutuhan bagi semua kalangan. Sehingga, lanjut dia, industri wajib menyesuaikan cara kerjanya. “Harus ada inovasi. Sekarang ini, capital saja tidak cukup. Mental juga harus siap menerima perubahan,” ungkapnya. 

Dalam sesi pemaparan materi, Abdul Kohar selaku ketua Dewan Redaksi Media Group menjadi narasumber pembuka. Dia menyampaikan dalam kurang dari satu dekade terakhir, industri media telah berubah drastis.

“Tahun 2014, sekitar 60 persen publik masih menjadikan televisi sebagai sumber informasi utama. Lalu 8 persen media cetak dan 7 persen media digital,” paparnya.

Saat ini, kata dia, pasar dikuasai generasi milenial. Sebagian dari mereka mengakses program televisi melalui platform streaming. Sedangkan untuk akses terhadap media cetak, hanya sekitar 4 persen di antaranya.

Selain Kohar, presentasi disampaikan Elan Biantoro, praktisi migas. Dia menjelaskan, perubahan juga terjadi di industri minyak dan gas bumi. Dimulai dari mindset dan tujuan perusahaan, hingga kapasitas produksi dan kondisi pasar terkini.

Selanjutnya, peserta yang sebagian besar dari kalangan awak media, juga mendapat asupan terkait kesehatan mental, dari psikolog Nurchayati. Dia menekankan, sikap fleksibel diperlukan untuk mengurangi risiko stres.

“Untuk menghadapi perubahan, sikap optimistis sangat penting karena berkaitan dengan kesiapan menyiapkan rencana atas usaha baru. Jadi harus belajar ekstra, berupaya lebih. Jangan lupa juga untuk tetap realistis, agar rencana dan upaya tetap terukur,” jelasnya. (pro5/one)