Prestasi kembali ditorehkan pemuda Kalimantan Timur di ajang nasional. Dara asal Kota Beriman, Balikpapan, Aldasya Nitsa Zafirah terpilih sebagai runner up 1 Duta Pariwisata Indonesia 2021.

 

ERIK ALFIAN, Balikpapan 

 

Pada final Duta Pariwisata Indonesia di Badung, Bali, Sabtu (13/11) lalu, dara yang kerap disapa Alda ini tampil maksimal dan menyisihkan wakil Lampung dan Jatim, yang finis sebagai runner up 2.

Terpilih sebagai runner up pertama, putri pasangan Hasanudin dan Ida Prahastuty ini mengaku bangga. Apalagi, pada ajang ini, dia harus bersaing dengan duta pariwisata dari 33 provinsi di Tanah Air.

“Pastinya bangga bisa membawa nama Kalimantan Timur di ajang nasional seperti ini,” kata dara 18 tahun ini.

Proses cukup panjang mesti dilalui Alda sebelum menyandang runner up terbaik. Ia mesti menjalani prakarantina 1, 2 dan 3. Di mana seluruh finalis wajib membuat video berupa wisata unggulan, photo shoot dan membuat artikel.

“Tentu saya harus bersaing dgn finalis dr seluruh indonesia, cukup berat karena memiliki kemampuan yang juga baik dan ditunjang akses pariwisata yang lebih menarik,” kata gadis kelahiran Balikpapan ini.

Pada sesi pertama, Alda mampu menembus 10 besar. Pada babak ini, Alda mengaku mempromosikan destinasi wisata dari Kabupaten Berau dan sukses membawanya ke babak lima besar.

“Pada babak lima besar ini saya menyampaikan advokasi saya sebagai Duta Pariwisata Indonesia dan berhasil masuk tiga besar,” lanjut dia.

Sukses menjawab pertanyaan dewan juri, Alda akhirnya sukses meraih gelar runner up pertama Duta Pariwisata Indonesia 2021 bersama Duta Pariwisata Putra asal Lampung.

Terjun di dunia pariwisata, kata Alda memang pilihannya sejak awal. Penghafal quran dan hadis ini mengaku resah, bumi Kaltim yang begitu kaya potensi wisata, justru kalah dengan daerah lain. Banyak pihak, kata dia, yang bahkan masih menganggap Kaltim sebagai hutan belantara.

“Potensi wisata Kaltim sangat menjanjikan, tapi selama ini hanya kurang dikenal saja. Ini yang membuat saya tertantang untuk bisa mengambil peran,” kata jebolan Thursina IIBS Malang ini.

Di sisi lain, factor keluarga juga jadi alasan Alda serius terjun ke bidang pariwisata. Hasanudin, sang ayah, disebut Alda kerap mengajaknya berwisata di alam terbuka. Dari situ, dia mengaku mulai sadar bahwa Kaltim punya potensi yang besar di sektor pariwisata.

“Ditambah lagi saya juga suka jalan-jalan dan hobi foto. Dari situ aku mulai tertarik, tak hanya wisata alam tapi juga budaya dan sejarah serta edukasi,” terang dia.

Kota Malang, tempat dia menuntut ilmu enam tahun belakangan, memang jadi inspirasinya. Ia menilai, Malang jadi salah satu contoh daerah yang sukses mengembangkan sektor pariwisatanya.

Mahasiswi Universitas Brawijaya Malang ini meneruskan, mengelola pariwisata perlu partisipasi aktif dari pemangku kebijakan dan para pegiat wisata untuk lebih gencar mempromosikan wisata di Benua Etam. Selain itu dia menilai perlunya perbaikan dan penambahan infrastrukur penunjang agar wisatawan semakin mudah. 

“Pemerintah harus serius mengelola sektor pariwisata, jangan terus menerus berharap kepada sumber daya alam Kaltim yang semakin habis,” katanya.

Ida Prahastuty, sebagai ibu, mengaku bangga dengan capaian Alda. “Alhamdulillah Alda sudah berhasil membawa nama Kaltim di level nasional, tentu saya sangat bangga,” kata Ida.

Ida menambahkan, selama setahun ke depan Alda punya tanggung jawab untuk promosi dan edukasi soal pariwisata. Aktifitasnya, lanjut Ida juga bakal dimonitor oleh pusat. 

“Alda punya komunitas milenial yang memang fokus utamanya promosi wisata, tentu dengan bantuan teknologi,” ungkap Ida.