BALIKPAPAN- Angka kasus stunting yang masih tinggi di Indonesia menjadi perhatian. Beragam langkah diupayakan, termasuk mendorong peran serta lingkungan dan orang-orang terdekat dalam mengawal tumbuh kembang anak.

Isu ini menjadi pembahasan menarik dalam diskusi yang digelar SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul), Kamis (18/11) siang.

Diskusi digelar secara virtual. Hadir para perusahaan KKKS migas, puskesmas, serta perwakilan pemerintah dari sekitar wilayah kerja Kalimantan dan Sulawesi. 

Acara yang bekerja sama dengan Balikpapan Televisi (BTV) ini dibuka Damar Setyawan, selaku Spesialis Dukungan Bisnis SKK Migas Kalsul. Dia menyebut, target pemerintah melawan angka stunting harus didukung oleh perusahaan. 

“SKK Migas bersama KKKS harus bersinergi mendukung tujuan tersebut, terutama untuk masyarakat yang berlokasi di sekitar wilayah kerja,” ungkap Damar yang dalam diskusi tersebut bertindak mewakili Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul, Azhari Idris.

Dalam sesi diskusi, Prof Muhammad Rizal Martua Damanik selaku Deputi Pelatihan, Riset, dan Pengembangan BKKBN RI menjadi narasumber pertama. Dia menjelaskan, angka stunting Indonesia dari Survei Status Gizi Balita pada 2019 lalu, masih berada di angka 27,67 persen dari jumlah kelahiran. Berdasarkan standar Badan Kesehatan Dunia, angka stunting idealnya paling tinggi hanya 20 persen.

“Negara berkembang seperti Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dari bonus demografi. Tapi tantangan juga ada. Salah satunya, kasus stunting ini,” ungkap Prof Damanik.

Dia menyebut, upaya pencegahan stunting harusnya diupayakan bahkan jauh sebelum kelahiran. Yakni paling tidak pada tiga bulan sebelum calon pengantin perempuan melangsungkan pernikahan. Jika terdapat masalah, maka masih ada waktu untuk diantisipasi sebelum akhirnya menikah dan bereproduksi.

“Di tahap itu mestinya ada skrining. Pelaksananya dari bidan, PKK, juga penyuluh KB. Indikatornya dari kecukupan usia menikah, besar lingkar lengan, dan harus diidentifikasi juga apakah si calon ibu ini punya gejala kurang darah (anemia) atau tidak,” bebernya.

Dalam sesi selanjutnya, narasumber dari Gerakan Ayah ASI, Sogi Indra Dhuaja juga memberikan pandangan. Pria yang dikenal sebagai seniman layar kaca ini menyebut, peran ayah dalam mencegah stunting tak kalah penting. Sayangnya, masih banyak berlaku stigma yang menghambat peran tersebut.

Dukungan suami itu bisa dalam hal menjaga kebahagiaan istri. Membantu beban pekerjaan di rumah, hingga turut mengasuh anak dalam porsi yang cukup. Tindakan-tindakan yang dalam beberapa keluarga atau kelompok masyarakat justru masih dianggap tidak ideal.

“Suami wajib memastikan istrinya bahagia. Istri bahagia, ASI lancar. ASI lancar akan cetak generasi berkualitas,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam sesi ketiga ada Prof Veni Hadju menyebut bahwa kendala utama stunting sulit ditekan adalah sikap acuh tak acuh. Itu karena gejala stunting memang tak mudah cepat dideteksi.

“Orang melihatnya stunting ini seperti tidak kenapa-kenapa. Padahal misalnya ternyata dari indikator tumbuh kembang itu banyak yang kurang. Di usia 0-59 bulan, memang tidak signifikan perbedaannya dengan anak normal. Tapi di masa itulah harusnya kita aware dengan risiko stunting,” ujar akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar itu. (pro/one)