Devisa migas, batu bara, hingga sektor pariwisata jelas terdampak pandemi. Namun tidak bagi ekspor sawit, sektor non migas ini menjadi penyumbang devisa tertinggi hingga Rp 300 miliar pada 2020. Petani sawit pun mengakui secara ekonomi nyaris tak terpengaruh pandemi. Penghasilan mereka tetap stabil dari sawit.

 

ERIK ALFIAN, Balikpapan 

 

Harga karet yang terjun bebas membuat Ahmad Darussalam resah. Kebun karet seluas kurang lebih 3 hektare miliknya, kini tak mampu memberi hasil yang maksimal.

"Karet harganya tidak bagus. Biaya yang dikeluarkan untuk perawatan tak sebanding dengan hasil panen," katanya.

Warga Desa Tepian Batang, Kecamatan, Tana Grogot, Paser ini lantas mulai mempertimbangkan sejumlah opsi pengganti tanaman karetnya. Pilihan akhirnya jatuh ke kelapa sawit. Alasannya sederhana, perawatannya relatif lebih mudah dan tak merepotkan.

"Kebutuhan akan minyak sawit pasti akan terus meningkat. Banyak produk kebutuhan sehari-hari yang memang berasal dari sawit, mulai dari makanan, kosmetik hingga bio solar," ungkap jebolan Universitas Mulawarman ini.

Ahmad lantas mulai menebangi pohon karet dan menggantinya dengan bibit pohon kelapa sawit. Bermodal Rp 75 juta, ia membeli bibit sawit, peralatan, dan kebutuhan perkebunan lain seperti pupuk.

Kini setelah lima tahun lebih, Ahmad mulai menikmati jerih payahnya. Pilihannya mengganti tanaman karetnya dengan kelapa sawit terbukti jitu. "Alhamdulillah sekarang sudah mulai panen, memang belum optimal, tapi sudah kelihatan hasilnya," ungkapnya.

Dalam sekali panen, setiap 20 hari, rata-rata dia mampu menghasilkan 1 ton per hektare lahan kelapa sawit. Dari hasil panen, untung yang bisa ia raup sampai 60 persen.

Kelapa sawit, kata dia benar-benar menjadi penyelamat ekonominya saat pandemi. Sawit jadi komoditas yang cukup resisten setahun belakangan. Bahkan saat ini dia sedang menikmati harga tertinggi tandan buah segar (TBS) maupun tandan buah pasir (TBP), yang mencapai Rp 2400-Rp 3200/Kg.

"Secara ekonomi, kehadiran sawit memang sangat membantu. Saat harga seperti sekarang, setiap panen saya bisa mengantongi Rp 8-9 jutaan," ungkapnya.

Jika dikelola sendiri, hasil satu kali panen diakui Ahmad sudah bisa menutupi biaya perawatan selama setahun, seperti pembelian pupuk dan pembelian herbisida pembasmi gulma.

Ahmad menambahkan, harga tbs yang naik saat pandemi juga jadi berkah bagi petani lain. Dia bercerita setidaknya 50 persen penduduk di desanya memang menggantungkan ekonomi dari perkebunan sawit.

"Saya melihat warga desa sama sekali tak terdampak pandemi, secara ekonomi nyaris tak berpengaruh kami bisa survive. Penghasilan kami tetap stabil dari sawit," terang dia. Tak hanya menguntungkan bagi petani, keberadaan perkebunan rakyat juga memiliki masa depan dan kontribusi yang jelas.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) terhitung sejak 2015 – 2020, luas hektar dan produksi sawit dari perkebunan rakyat kian tahun semakin meningkat. Total produksi 10.528 ton pada 2015, produksi bertambah menjadi 11.575 ton pada 2016.

Selanjutnya produksi kelapa sawit sebesar 13.191 ton pada 2017, 15.297 ton pada 2018, dan 16.223 ton pada 2019, hingga teranyar pada 2020 telah mencapai 17.375 ton. Meningkatnya komposisi luas dan produksi perkebunan sawit rakyat menandakan masyarakat kian percaya dengan industri kelapa sawit. 

“Kita bisa lihat, pemerintah ke depan, arah pengembangan sektor perkebunan kelapa sawit pasti ke perkebunan rakyat. Ini sesuatu yg tidak bisa dielak,” sebut Ketua Bidang Komunikasi GAPKI Tofan Mahdi.

Namun dia mengakui, perkebunan rakyat masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang sangat besar untuk berbagai pihak. Terutama membantu peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat. 

Misalnya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang membantu melalui program peremajaan kelapa sawit rakyat hingga kegiatan yang mendorong produktivitas petani. “Apalagi sektor minyak sawit ini tulang punggung perekonomian naisonal dan tidak bisa ditinggalkan,” ucapnya.

Tofan membeberkan, kontribusi industri kelapa sawit pada ekonomi nasional memang tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan, tak segan dia menyebut industri kelapa sawit sebagai penyelamat ekonomi Indonesia. Terutama saat pandemi Covid-19 melanda Tanah Air sejak hampir dua tahun terakhir. 

GAPKI mencatat, nilai ekspor dari kelapa sawit sepanjang tahun 2020 mencapai USD 22,9 miliar. Nilai ini lebih tinggi ketimbang nilai eskpor tahun 2019 yang mencapai USD 20,22 miliar. “Kita perkirakan sampai akhir tahun sumbangan devisa ekspor dari industri kelapa sawit bisa mencapai USD 30 miliar atau sekitar Rp 400 triliun,” ungkapnya.

Kontribusi ini tak lepas dari peningkatan harga crude palm oil (CPO) yang mencapai harga tertinggi USD 1200 per ton hingga USD 1450 per ton. “Ini berkah bagi pengusaha, pemerintah dan juga petani yang juga menikmati kenaikan harga tandan buah segar (TBS),” katanya.

Indikator lain yang menunjukkan kontribusi sawit, menurut Tofan adalah penjualan kendaraan bermotor di daerah sentra kelapa sawit relatif tak terpengaruh selama pandemi. Padahal, di daerah lain yang bukan sentra kelapa sawit penurunannya sangat tajam.

Berkat industri sawit, Indonesia dikatakan Tofan juga mampu terhindar dari jurang resesi. “Negara lain mengalami kontraksi ekonomi yang cukup tajam. Sementara kita di Indonesia, pertumbuhan ekonomi memang sempat minus hanya sampai 5 persen,” bebernya.

Selain berkontribusi besar terhadap devisa ekspor, industri sawit juga berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional dan penghematan devisa. Tofan mencatat nilainya mencapai USD 3,54 miliar atau Rp 51,73 triliun lewat mandatori B-20 dan USD 8 miliar atau setara Rp 116 triliun lewat mandatori B-30.

“Lewat mandatori B-20 dan B-30 pemerintah bisa menunurunkan impor minyak mentah, sehingga bisa menghemat cadangan devisa. Tapi juga meningkatkan daya serap minyak sawit di dalam negeri,” jelasnya. Indonesia, selama ini dikatakan Tofan juga merupakan produsen dan eskportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Bersama Malaysia, Indonesia menguasai 85 persen pangsa pasar CPO dunia. “Tapi Malaysia tidak sampai separuhnya, jadi produsen utama tetap Indonesia,” tegasnya. Dari sisi produksi, GAPKI mencatat tren kenaikan produksi minyak sawit dibanding tahun sebelumnya. 

Di mana pada 2020 lalu, total produksi CPO Indonesia mencapai 47,03 juta ton. Tahun ini, hingga Agustus produksi CPO Tanah Air sudah mencapai 30,67 juta ton. Lebih dari 50 persen produksi tersebut digunakan untuk keperluan ekspor. Ada pun negara tujuan utama ekspor di antaranya Tiongkok, Uni Eropa, Pakistan, dan India.

Peran strategis kelapa sawit dalam pertumbuhan ekonomi Tanah Air juga disebutkan BPDPKS pada diskusi bertajuk BPDPKS Journalist Fellowship & Training 2021. Plt Direktur Kemitraan BPDPKS Edi Wibowo mengatakan, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas penghasil devisa ekspor tertinggi bagi Indonesia. 

Pihaknya mencatat, selama pandemi melanda Indonesia, industri kelapa sawit mampu bertahan dan menyumbang devisa ekspor mencapai Rp 300 triliun sepanjang 2020. “Nilai ini lebih tinggi dari devisa migas dan batu bara serta sektor pariwisata yang menurun selama pandemi,” jelasnya.

Tak sekadar menyumbang devisa, industri kelapa sawit juga berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Tidak kurang terdapat 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 16 juta tenaga kerja tidak langsung terserap lewat industri sawit.

Meski punya peran strategis dalam perekonomian Tanah Air, Edi menyebut industri kelapa sawit tak lepas dari kampanye hitam dan isu negatif yang menghambat ekspor.

“Selain karena ketidaktahuan, kampanye negatif juga didasari isu lingkungan dan persaingan bisnis dengan komoditas minyak nabati lain seperti minyak biji matahari maupun minyak kedelai,” ungkap dia.

Menyikapi kampanye negatif tersebut, pemerintah, kata Edy tidak tinggal dalam. Beberapa tahun belakangan, pemerintah terus berusaha melakukan perbaikan atas tata kelola perkebunan dan industri sawit dalam negeri. Implementasi standar-standar keberlanjutan industri kelapa sawit juga jadi fokus utama.

“Prinsip dan kriteria keberlanjutan kelapa sawit Indonesia sudah mengadopsi prinsip transparansi, sehingga dapat ditelusuri asalnya sampai hulu sampai hilir,” katanya. Hal ini kata dia, dapat mendorong perbaikan data dan meningkatkan kepatuhan akan ketentuan yang berlaku. 

Sementara BPDPKS, sejauh ini terus berperan aktif dalam upaya pencapaian keberlanjutan kelapa sawit. Di antaranya dengan mendorong peningkatan produktifitas lahan petani secara intensifikasi, maupun program peremajaan sawit rakyat (PSR).  

“BPDPKS juga terus mendorong hilirisasi industri kelapa sawit, menjaga stabilisasi harga CPO, pelaksanaan riset, pengembangan SDM dan peningkatan keberlanjutan kelapa sawit di pasar global,” pungkasnya. (pro/one)